Taste adalah hal yang orang lain salin


“Taste” adalah kata yang aneh karena semua orang kurang lebih paham maksudnya, tapi kata itu langsung menjadi licin ketika kita mencoba mendefinisikannya.
Bagi saya, taste adalah kemampuan untuk secara konsisten membuat penilaian kualitatif yang baik ketika tidak ada metrik objektif untuk bersembunyi di baliknya. Ia adalah kemampuan untuk tahu bahwa kalimat ini harus lebih pendek, animasi ini harus lebih pelan, layout ini butuh ruang bernapas, atau ide ini sebaiknya dibuang sepenuhnya. Ia adalah tindakan membuat sesuatu terasa benar, walaupun kita tidak selalu bisa menjelaskan sistem ukur yang membuatnya benar.
Dan ketika berhasil, orang bisa merasakannya.
Taste adalah judgment tanpa spreadsheet
Banyak hal mudah dievaluasi karena papan skornya jelas. Sebuah halaman load dalam 400ms atau tidak. Sebuah test pass atau fail. Revenue naik atau turun.
Taste hidup di area menyebalkan ketika papan skornya tidak lengkap. Kita bisa mengukur contrast ratio, tapi tidak selalu bisa mengukur apakah sebuah halaman terasa tenang. Kita bisa menghitung jumlah kata, tapi tidak selalu bisa mengukur apakah sebuah paragraf benar-benar mengena. Tentu saja ada sinyal, tapi keputusan terakhir tetap membutuhkan judgment.
Inilah kenapa taste sulit diperdebatkan. Seseorang selalu bisa bertanya, “berdasarkan apa?” dan terkadang jawaban paling jujur adalah “berdasarkan pola yang sudah cukup sering saya lihat sampai saya mempercayainya.”
Taste yang bagus mudah disalin setelah ada
Hal lucu dari taste adalah hasilnya sering kali jauh lebih mudah disalin daripada judgment yang melahirkannya.
Begitu seseorang membuat keputusan yang tasteful, orang lain bisa menirunya hampir seketika. Sebuah treatment tipografi, interaksi produk, gaya menulis, ritme visual, atau cara menyusun informasi. Setelah ia ada, semuanya bisa terlihat jelas. Orang bisa menunjuknya dan berkata, “saya juga bisa membuat itu.”
Dan mungkin memang bisa. Tapi itu bukan bagian yang menarik.
Bagian menariknya adalah mereka membutuhkan benda itu ada terlebih dahulu. Mereka bisa menyalin hasilnya, tapi mereka tidak menghasilkan judgment yang memilih bentuk itu dari ratusan kemungkinan lain. Satu orang menemukan bentuknya. Yang lain menjiplak garisnya.
Ini sering dipakai sebagai argumen untuk meremehkan taste. “Kalau memang spesial, kenapa saya bisa menyalinnya semudah ini?”
Tapi itu melewatkan intinya. Taste tidak berharga karena tidak bisa disalin. Taste berharga karena ia menentukan apa yang akhirnya dipilih orang lain untuk disalin.
Apakah AI bisa punya taste?
Mungkin suatu hari AI akan mengembangkan sesuatu yang mirip dengan taste. Saya tidak berpikir ini mustahil secara prinsip. Tapi untuk saat ini, kebanyakan output AI lebih baik dalam meramu ulang pola yang sudah terlihat daripada menciptakan judgment kualitatif yang benar-benar baru.
AI bisa meniru permukaan dan terkadang menghasilkan sesuatu yang benar-benar berguna. Tapi masih ada perbedaan antara menghasilkan opsi yang masuk akal dan mengetahui kenapa satu opsi pantas bertahan.
Taste bukan sekadar style. Taste adalah seleksi. Taste adalah restraint. Taste adalah tahu apa yang tidak perlu dilakukan. Dan bagian itu masih terasa sangat manusiawi.
Hal yang layak dilatih
Taste bukan sihir. Ia dibangun dari perhatian. Kita melihat hal-hal bagus cukup lama. Kita membandingkannya dengan hal-hal buruk. Kita memperhatikan perbedaannya. Kita membuat sesuatu sendiri. Kita merasakan di mana ia rusak. Kita merevisi. Kita menyalin, lalu pelan-pelan berhenti menyalin. Kita membangun perpustakaan pola pribadi sampai judgment kita menjadi lebih cepat daripada penjelasan kita.
Taste sulit diciptakan, tapi mudah dikenali setelah hasilnya ada.
Itulah kenapa taste makin penting sekarang. Bukan karena taste tidak bisa disalin, tapi karena taste menentukan arah penyalinan. Ia menciptakan keputusan awal yang nantinya terasa jelas bagi semua orang.
Produksi menjadi murah. Judgment tidak.
Jadi mungkin pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar “apakah kamu bisa membuatnya?”
Melainkan “apakah kamu bisa tahu apakah ia layak dibuat?”